Cara menjual produk, yang setelah dibandingkan dengan kompetitornya atau pesaingnya ternyata banyak kalahnya atau jeleknya dari pada menangnya..

Produk yang samacam ini bisa membuat para selesman merasa malu, takut di ejek teman-temanya, tidak percaya diri, frustasi kemudian mengundurkan diri.

Tersebutlah Bagus.. seorang salesman, dia merasa bahwa produk yang dijualnya lebih jelek dibanding dengan pesaing, bahkan bukan dia saja yang merasa bahwa produknya jelek, tapi agen-agen yang telah membeli produknya juga mengatakan bahwa produknya jelek.. Sehingga Bagus ingin mennngundurkan diri, kemudian mencari perusahaan yang produknya terkenal dan gampang menjualnya, Loh.. ini gak salah, saya juga begitu, saya bangga bisa bekerja di sebuah perusahaan asing yang produknya terkenal dan gampang dijual, tapi kalau sekarang yang saya pentingkan adalah kesempatan atau manfaat apa yang bisa kita peroleh dari perusahaan itu, misal kalau di perusahaan besar hanya dapat gaji 3,5 jt/bln, karir sebagai anak buah, di perusahaan kecil bisa dapat 6 jt/bln plus sebuah jabatan yang bergengsi, pilih mana hayo..? Contoh masih kurang..? Ok lanjut lagi

Jangan sampai karena kita mempunyai produk yang jelek (secara jujur produknya benar-benar jelek), mental kita jadi jatuh seperti si Bagus ini.
Bagus :”Pak.. saya mau mundur dari perusahaan”
Saya :”Lah terserah kamu.. tapi kalau boleh tahu alasanmu mengundurkan diri itu apa..? gaji, isentive, bosmu galak, atau apa..?”
Bagus :”Pak.. saya mau mundur sebab produk yang dijual di perusahaan saya ini jelek-jelek semua..”
Saya :”Ooo.. kalau itu masalahnya pikirkan dulu, coba kamu ceritakan, produk yang kamu maksud jelek atau baik itu seperti apa..?”
Bagus :”Ini lo pak,, secara pribadi pak.. saya menilai produk ini jelek, coba bayangkan..”

Maaf Sensor.. produk dan perusahaan si Bagus tidak bisa saya sebutkan disini, saya ganti dengan contoh yang lain ya..? yang lebih umum sehingga mudah dimengerti..

Misal ada sebuah operator internet PT. A menjual koneksi CDMA 1x (kecepatan maksimal cuma 130 kbps), sedangkan operator internet PT. B menjual koneksi EVDO rev. A (kecepatan maksimal 750.000 kbps)
Saya :”Sendainya Bagus jadi salesman operator PT. A, apa yang kamu lakukan..? apa mengundurkan diri..? karena produkmu kalah canggih dengan kompetitor..?”
Bagus :”Itulah masalahnya pak.. kalau saya bekerja di PT A, pasti saya mengundurkan diri.. bagaimana mungkin teknologi cdma 1x mengalahkan EVDO rev.A..?”

Padahal cara mengatasi hal itu sangat gampang sekali, dan ini yang dilakukan oleh mantan staf saya yang saat ini bekerja disebuah operator yang menjual CDMA 1x. “Kebutuhan bapak apa..? kalau hanya browsing, chating pakai YM atau FaceBook, cdma 1x masih bisa mengatasi.. enaknya lagi cdma 1x ini bisa menjangkau pelosok desa di seluruh Indonesia, dan konek sebulan penuh cukup bayar 25 ribu saja, mana tahan..?? kalau menggunakan EVDO Rev.A, cuma bisa nyambung di surabaya pusat saja pak..!!”, pilih mana hayo..? Contohnya masih kurang..? Ok lanjut lagi

Misal nih.. ada kaos bagus, mulai komposisi warna, desain, jahitan dan bahan, harganya Rp 350 ribu, terus kaos biasa harga Rp 75.000 ribu.
Saya :”Menurut kamu bagus mana..?”
Bagus :”Bagusan yang kaos harga Rp 350 ribu..”
Saya :”Terus kamu mengundurkan diri..”
Bagus :”Jelas iya pak…!!”

Padahal cara mengatasinya gampang.. kalau bapak jalan-jalan ke mall pakai kaos Rp 350 ribu, pasti keren dan kelihatan tampan.. tapi kalau bapak berkebun yang tanahnya kotor banyak pupuk kandangnya (terbuat dari kotoran kuda/sapi), mencuci mobil atau sedang menyetel mesin motor Harley Davison (yang banyak olinya), bapak pilih kaos yang Rp 75 ribu itu atau yang Rp 350 ribu..? pilih mana hayo..? Contohnya masih kurang..? Ok lanjut lagi..

Ada mobil sedan, masih baru, mesin halus, nyaman, aman, irit terus ada mobil stationwagon (mini bus) bekas, boros, jelas tidak nyaman..
Saya :”Ayo bagaimana Gus..?”
Bagus :”Hmmm.. ha.. ha.. saya mau marah sama perusahaan, kenapa tidak mendidik saya..”
Saya :”Lah.. kamu gak tanya ke sales managermu to..?”
Bagus :”Lah.. sudah mengundurkan diri kog pak.. sekarang lowong..?”
Ha..?? loh jangan-jangan.. wah jangan berpikir negatif ah… Contohnya masih kurang..? Ok lanjut lagi..

Saya :”Gus.. kamu naksir Farida ya.. Farida blok I.. hayo ngaku…!!”
Bagus :”Iya pak.. menurut bapak bagaimana..?”
Saya :’Ha.. ha.. saya juga pernah muda Gus.., kamu tahu gak.. Faisol juga naksir Farida.. Faisol orangnya ganteng, sori ya.. jangan marah.. Faisol kelihatannya juga lebih berduit daripada kamu.. terus kamu mau bagaimana..? mengundurkan diri dari persaingan atau malah maju..? Hayo pilih mana…?”
Bagus :”Oh.. Farida, my darling.. janganlah engkau terpancing dengan wajah tampan dan dompet tebal, tapi lebih baik carilah seorang pria yang tulus cintanya.. dan tak akan pernah menduakan dirimu.. Pilih mana hayo…?” Contohnya masih kurang..? Ok lanjut lagi.. eee contohnya sudah 5, cukup ya..?

Saya :”Ha.. ha.. pinter kamu Gus.. aku lapar..”
Bagus :”Pak.. pak… saya traktir pak.. ha.. ha..!!”
Saya :”Tumben kamu punya duit.. klo mau nikah.. memang harus rajin nabung Gus..”
Bagus :”Bapak darai mana tahu kalau Faisol naksir Farida..?”
Saya :”Dari Faisol sendiri..”
Eehem.. padahal bukan.. yang nyuruh saya ngomong gitu ya Farida sendiri.. EE.. nglantur.. ini blog bisnis dan karir kog malah urusan comblang ha.. ha..

Ooo iya terus untuk men treatment agen-agen itu bagaimana..? next post ya.. si bungsu lagi mutah dan demam nih.. waktunya minum obat..

Semoga tulisan saya dapat membuat Anda ter Inspirasi..

sumber : http://solusibisnismu.wordpress.com/2010/10/13/cara-menjual-produk-yang-jelek-banyak-kekurangan-kelemahan/

Musim ini terdapat puluhan pemain sepakbola profesional Muslim yang mengadu nasib di berbagai liga di Eropa. Banyak di antara mereka yang sukses meniti karier di sana, tanpa harus mengikuti kultur dan tabiat warga lokal.

Keteladanan para pemain Muslim itu layak diapresiasi. Mereka tidak berkilah dengan alasan demi mengejar kata profesional agar bisa bersaing dengan pemain mancanegara lainnya. Contohnya, gelandang Manchester City yang menolak dengan sopan ajakan rekannya untuk meminum sampanye guna merayakan kemenangan.

Masih banyak contoh lain yang layak diungkap. Berikut beberapa teladan yang ditunjukkan pemain itu.

1. Ibrahim Afellay Pemain yang memperkuat Barcelona ini memiliki identitas Muslim yang cukup jelas, baik secara fisik maupun tingkah laku. Dia memiliki wajah khas jazirah Arab dan berkepribadian santun. Mantan gelandang serang PSV Eindhoven ini dianggap sebagai salah satu pemain berbakat dalam persepakbolaan Belanda.

Ia pernah memperoleh penghargaan sebagai pemain terbaik Eredivisie Liga Belanda pada musim 2007-2008. Ibrahim Afellay terpilih sebagai “Muslim van Het Jaar” atau Muslim Teladan di Belanda. Kini Afellay berpotensi menjadi pemain masa depan timnas Oranye.

2. Frank Ribery yang menjadi kreator serangan timnas Perancis memiliki ciri terdapat goresan luka di wajahnya. Ribery adalah mualaf dan memeluk Islam setelah meminang istrinya yang keturunan Perancis-Aljazair.

Ribery semakin menjadi idaman pendukungnya setelah berkata, “Saya berdoa lima kali sehari, saya melakukannya karena itu memungkinkan saya untuk dilepaskan dan saya merasa lebih baik setelahnya.” Sontak ucapannya itu menjadikan dia sebagai Muslim yang taat sebab tidak pernah untuk lupa berdoa setiap menjelang pertandingan dimulai.

3. Sulley Muntari, Saat ini dia berstatus sebagai pemain pinjaman AC Milan dari Inter Milan. Gelandang timnas Ghana ini merupakan sosok pemain Muslim yang rajin menjalankan perintah agama. Sebagai contohnya, ketika Seri A Liga Italia bergulir di bulan Ramadhan, dia lebih memilih tetap berpuasa daripada membatalkannya.

Pelatih Inter kala itu, Jose Mourinho pernah mengingatkannya agar ia tidak berpuasa, namun Muntari tetap pada pendiriannya dan terbukti penampilannya di lapangan tidak menurun gara-gara berpuasa.

sumber : Republika

Bukan Merayakan,Tapi Memperingati

Posted: 18 Februari 2012 in Dunia Islam

“Bunda…Bunda! Di depan mushalla aku lihat ada tenda, memangnya ada yang mau hajatan, Bunda?” tanya Ade yang baru pulang dari sekolah.

“O… itu bukan tenda untuk hajatan, Sayang! Tapi untuk pengajian nanti malam.” jawab Bunda yang sedang menyiangi tanaman hias di halaman.

“O, iya. Ade lupa! Nanti malam kan kita akan merayakan hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Benar kan, Bunda?”

“Bukan merayakan, tapi memperingati.” Bunda mengoreksi

“Apa bedanya, Bunda?”

“Ya jelas beda, Sayang. Dalam Islam hanya ada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Di luar itu tidak ada lagi perayaan. Yang ada peringatan, seperti maulid nabi dan Isra mi’raj.” Bunda yang sudah selesai menyiangi tanaman menghampiri bungsunya yang duduk di teras, melepas sepatu.

“Pengajian nanti malam diadakan bukan untuk merayakan hari kelahiran nabi, karena hal ini tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh nabi. Yang kita lakukan adalah mengadakan pengajian umum dengan menjadikan kelahiran nabi sebagai tema dan topik pembicaraan. Meski secara khusus hal ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tapi tidak ada salahnya jika kita menjadikan momen bersejarah ini untuk mengadakan satu kegiatan yang bermanfaat, dan tentu saja bernilai ibadah. Memperingati bertujuan agar kita ingat. Ingat akan sesuatu yang penting, terlebih sejarah nabi Muhammad saw yang kita cintai. Aneh bila kita mengaku cinta nabi, tapi sejarah hidup beliau, mulai dari lahir hingga wafat, kita tak tahu. Profil selebritis saja banyak yang hafal, masa nabi sendiri malah tidak tahu atau justru tidak mau tahu. Astaghfirullah!” panjang lebar Bunda menjelaskan.

“Nanti malam kita datang ke pengajian di mushalla kan, Bunda?”

“Insya Allah. Ayah dan Kakak juga.”

“Aku nda bisa, Bunda. Ada banyak PR yang harus secepatnya dikumpulkan.” Merasa dirinya disebut-sebut, Kakak yang sedang asyik membaca buletin olah raga, spontan menyela.

“Kakak…sekarang baru jam tiga, masih banyak waktu untuk menyelesaikan PR mu. Kerjakan sekarang, biar nanti malam kita bisa sama-sama datang ke pengajian!”

“Nanti malam aku juga harus belajar, Bunda” Kakak kembali beralasan.

“Seingat Bunda kamu tidak pernah belajar kalau malam Minggu. Khusus di malam Minggu, Ayah selalu membebaskan kalian untuk istirahat dari kegiatan belajar. Jangan cari-cari alasan lagi!”

Mendengar Kakak dimarahi Bunda, Ade cekikikan. Menjulurkan lidah ke arah Kakak lalu sembunyi di balik Bunda. Dalam situasi lain, Kakak pasti akan mengejar Ade dan mengitik-itik pinggangnya sampai teriak minta ampun, kegelian. Tapi kali ini Kakak hanya bisa geram, bahkan sekedar melotot pun ia tak berani. Otaknya kembali bekerja, sibuk mencari-cari alasan.

“Kita hanya mau mendengarkan pengajian kan, Bunda? Kalau begitu aku ndengerin dari rumah saja. Rumah kita kan dekat, tak lebih dari seratus meter, pasti kedengeran. Malah enakan di rumah, bisa sambil tiduran dan nonton TV. Ups!” Kakak keceplosan. Buru-buru ia menutup mulutnya, berharap Bunda tidak mendengar alasan terakhirnya.

Sayangnya Bunda sangat jelas mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.
Ade kembali cekikikan, menertawakan alasan Kakak yang justru membuat Bunda melotot. Kakak tersenyum kecut, menyesali kepolosan keceplosannya.

“Kakak ini bagaimana, masa ikut pengajian sambil tiduran, malah nonton tivi segala. Suara pengajian memang bakal sampai ke rumah ini, tapi jika kita hanya mendengarkan dari rumah, kita akan melewatkan banyak kesempatan, kehilangan banyak keuntungan.”

Ade berhenti cekikikan, menatap Bunda, menunggu penjelasan.

“Pertama, setiap langkah menuju majelis ilmu dan pengajian akan dihitung sebagai ibadah, dibalas dengan satu pahala kebaikan, dihapus satu keburukan. Kedua, dengan mendatangi majelis ilmu dan pengajian, kita dapat bersilaturahim dengan saudara dan tetangga kita. Kesibukan sehari-hari sering menjadi kendala untuk saling mengunjungi. Di majelis inilah saat dan tempat yang tepat untuk bersilaturahim. Ketiga, selama kita duduk di majelis ilmu dan pengajian, malaikat akan mendoakan dan Allah akan merahmati kita. Keempat, dengan mengikuti majelis ilmu dan pengajian, rezeki kita akan bertambah. Kalian bisa lihat kan, banyak makanan yang dihidangkan untuk para jamaah yang datang? Tentu saja ini jangan dijadikan tujuan utama. Tapi yang jelas keberkahan rezeki akan lebih terasa jika dinikmati bersama-sama. Dan masih banyak keuntungan serta keutamaan lainnya. Masihkah Kakak akan melewatkan kesempatan berharga ini?”

“Iya deh, Bunda. Insya Allah nanti Kakak ikut.” akhirnya Kakak nyerah. Bukan nyerah, tapi Kakak sadar bahwa apa yang Bunda jelaskan adalah benar.

“Yes!” Ade berteriak girang.

“Nah, begitu dong! Ayah dan Bunda tidak mau anak-anak Bunda kelak terpisah dari kami di surga.” Bunda tersenyum, mengemasi gunting dan sapu untuk disimpan kembali di gudang.

Masih agak kesal, Kakak hanya mengangguk menanggapi Ade yang langsung rusuh, sibuk mengajak Kakak pakai sarung dan baju koko kembar, lupa bahwa badan Kakak tak lagi sekecil tahun lalu. Bila dilihat dari fisiknya, Kakak dan Ayah terlihat seperti saudara, adik kakak.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/02/18310/bukan-merayakantapi-memperingati/#ixzz1mhhFeYxw

Florinda Zeka telah bertekad. “Jika mereka meminta saya menanggalkan jilbab, saya tak akan melakukannya,” ujarnya. Gadis berusia 17 tahun ini sejak Maret lalu terpaksa harus meninggalkan sekolah karena berjilbab. Ia tertimpa dampak kebijakan Pemerintah Kosovo yang melarang penggunaan jilbab di sekolah-sekolah umum.

Dengan kebijakan itu, Zeka yang tinggal di pinggiran kota wilayah Kosovo Tengah ini dipaksa untuk memilih. Dan ia telah menjatuhkan pilihannya, meninggalkan sekolah. “Sebab, bagi saya jilbab lebih penting dibandingkan sekolah. Jilbab hal paling berharga di dalam kehidupan saya,” katanya seperti dikutip BBC, Selasa (24/8).

Kini, otoritas lokal sedang mempertimbangkan keputusan apakah akan mengizinkan Zeka kembali ke kelas atau tidak, setelah liburan musim panas ini. Ia mengungkapkan kesedihannya atas munculnya larangan jilbab. Ia pun merasakan diskriminasi. Sebab, ia ingin memiliki hak seperti orang lain, bersekolah.

Ia benar-benar rindu kembali ke sekolah, tentu dengan penutup auratnya. Kosovo, yang secara unilateral mendeklarasikan kemerdekaannya dari Serbia pada 2008 silam, menetapkan larangan jilbab di sekolah umum pada akhir tahun lalu. Langkah ini dianggap pemerintah sesuai dengan konstitusi yang menyatakan Kosovo negara sekuler.

Namun, sejumlah kalangan meyakini motif sebenarnya adalah keinginan pemerintah agar Kosovo seperti negara Barat. Yang menegaskan bahwa mereka benar-benar menganut nilai-nilai Eropa. Dengan harapan, Kosovo secara mudah bisa bergabung dalam Uni Eropa. Langkah yang hampir sama dilakukan Turki.

Di sisi lain, mereka menunjuk kan satu fakta lainnya. Untuk mencapai tujuannya, pemerintah mendorong pembangunan katedral Katolik besar yang kini masih berlangsung. Lokasinya di ibu kota negara, Pristina. Sedangkan Muslim, yang jumlahnya lebih dari 90 persen dari populasi, terpaksa harus shalat hingga trotoar.

Hal ini terjadi karena sempitnya masjid-masjid yang ada di kota tersebut. Deputi Menteri Luar Negeri Vlora Citaku, menyampaikan dalih pemerintah soal pelarangan busana Muslimah. “Jilbab di Kosovo bukan elemen dalam identitas kami. Jilbab merupakan pertanda penyerahan diri perempuan kepada laki-laki,” katanya.

Menurut dia, tak mungkin seorang gadis berusia 16 tahun atau 17 tahun mampu membuat keputusan secara sadar untuk memakai jilbab. Ia mengatakan, pelarangan tak akan diberlakukan di universitas. Pemerintah, kata dia, mempertimbangkan soal kedewasaan terkait jilbab.

Secara umum, jelas dia, ada persepsi bahwa setelah berumur 18 tahun ke atas seseorang mampu membuat keputusan secara mandiri. Dengan demikian, perempuan itu melakukan sesuatu bukan karena dorongan atau paksaan di luar dirinya. Ia menegaskan, banyak orang yang mendukung larangan jilbab di sekolah-sekolah umum.

Menurut dia, daripada memberikan fokus pada kelompok marginal lebih baik perhatian diberikan kepada mereka yang mayoritas. Banyak orang tua menyampaikan rasa khawatir tentang anaknya yang mengenakan jilbab. Pada Juni lalu, keputusan pemerintah ini memicu unjuk rasa 5.000 orang di Pristina.

Para pemimpin Muslim menegaskan, mereka akan mengadukan pemerintahnya ke Pengadilan HAM Eropa jika keputusan pelarangan jilbab itu tak dihapuskan. Besa Ismaili, salah seorang yang menentang pelarangan penggunaan jilbab di sekolah umum, menyatakan kebijakan itu mempengaruhi dukungan publik terhadap Pemerintah Kosovo. (irf/Ferry Kisihandi/RoL)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2010/08/7370/demi-jilbab-seorang-murid-di-kosovo-terusir-dari-kelas/#ixzz1m8lEa71b

“Subhanallah ukhti, Akhi Fulan bin Fulan ini benar-benar shalih, cara bicaranya, cara merespon lawan bicara, cara memberi komentar di pesbuk, semua kata-katanya indah dan menyentuh, bahkan sangat gentlemen banget.”

Demikian kira-kira curhat seorang akhwat terdengar kepada penulis. Mungkin banyak dari kita mendapat curhat seperti itu dari rekan dekat dan sekitar. Curhat kekaguman seorang akhwat terhadap ikhwan yang dikenal via fesbuk atau jejaring sosial lain. Tidak mengherankan jika akhwat mengagumi ikhwan berlebihan, karena mungkin sang akhwat sedang terpedaya oleh kalimat menghanyutkan dari sang ikhwan.

Tetapi ada hal lain yang mesti diperhatikan oleh seorang muslimah, bahwa lembut dan tegas harus diletakkan pada tempat yang proporsional.

Jika kita memperhatikan pergaulan dunia maya, banyak yang tertipu dan mudah percaya dengan identitas yang tersaji. Padahal dunia maya itu tidak sepenuhnya dapat dijadikan rujukan informasi tentang identitas seseorang. Contoh yang paling menonjol, banyak peristiwa akhwat terlukai oleh manis tipuan ikhwan dunia maya. Penulis ambil contoh dari jejaring sosial fesbuk. Di sini rentan terjadi penipuan, baik dari orang biasa maupun orang luar biasa atau orang yang keluar dari kebiasaan.

Ada akhwat yang memang senang dan merasa tersanjung dengan didekati ikhwan yang rada-rada punya jiwa gombalis suka bergaya puitis. Inbox dan komentar dinilainya sebagai bentuk perhatian khusus bagi akhwat, padahal tidak jarang bukan cuma dua atau tiga akhwat yang dijadikan target melancarkan aksi gombalisasi.

Tetapi ada juga akhwat yang justru merasa risih dan gerah dengan banyak diperhatikan ikhwan, karena akhwat akan dapat menyimpulkan bahwa ikhwan model gini tidak layak disebut sebagai ikhwan, tapi lebih pantas dijuluki “Playboy Berkedok Ikhwan.”

Ada beberapa ciri-ciri playboy bergaya ikhwan di dunia maya yang bernama facebook, antara lain:

1. Rajin memberikan perhatian kepada akhwat melalui komentar, seakan ia adalah ikhwan shalih yang hafal ratusan dalil Al Qur’an dan hadits, padahal bermodal copy-paste dari internet.

2. Giat kirim inbox pada akhwat. Penting engga penting, ada aja alasan buat membuka celah agar tercipta dialog, terkadang dipaksa-paksakan, sampai-sampai kucing tetangga yang lagi sakit pun jadi bahan pembicaraan.

3. Tebar komentar berisi pujian, misalnya: ‘Subhanallah, ukhty sangat anggun dengan hijab lebar itu’, atau ‘Wah….mantap benar nih ukhti, ga rugi ana jadi teman anti’, dan bla bla bla….

4. Tebar perhatian berisi nasihat, misalnya: “Ukhti sholatnya yang khusyu’ ya’, ato ‘ukhti semangat, mujahidah gitu lho, hehhee’. Norak banget khan?”

5. Yang paling parah ini nih, tebar janji ta’aruf dan nikah, padahal yang dijanjikan bukan cuma dua atau tiga akhwat. Giliran ketauan bohongnya, jadi berabe.

De el el, masih banyak lagi, yang pasti play boy berbaju ikhwan ini sistematis cara melancarkan serangan. Jika yang di incer akhwat yang suka ngebahas jihad, maka bentuk tebar pesonanya juga berkecimpung tentang jihad, meskipun dengan modal mbah Google. Jika yang diincar akhwat aktivis, maka bentuk perhatiannya juga ga jauh-jauh tentang problema keumatan, meski kalimat perhatiannya hasil copas beranda tetangga sebelah.

Terakhir, penulis hanya ingin mengingatkan saja, hati-hati dengan JIL alias Jaringan Ikhwan Lebay yang suka tebar perhatian. Para FBI alias Female Bidikan Ikhwan juga harus pintar-pintar menggunakan jejaring sosial agar mendapatkan manfaat, bukan mudharat. Kalau mau serius sama ikhwan, lebih baik ajak kopdar dan nanya orang-orang dekat. Dan kepada para play boy, stop it deh aksinya, kasian para akhwat yang udah terpedaya oleh aksi kalian. Be Good man guys.. ^_^

by Yulianna PS
Penulis kumcer Hidayah Pelipur Cinta

http://www.voa-islam.com/teenage/smart-teen/2012/02/04/17613/wahai-akhwat-jangan-tertipu-playboy-berkedok-ikhwan/

Bahagia Dalam Diri Adalah…

Posted: 17 Januari 2012 in Motivasi, Renungan

Menjadi bahagia, bukanlah karena sikap orang lain yang menyenangkan atau menyakiti kita. Tetapi menjadi bahagia adalah karena pilihan kita sendiri untuk menjadi bahagia.

Menjadi bahagia adalah tentang bagaimana kita mensetting hati, pikiran dan laku dan keseharian kita, dan semua itu adalah terletak diatas keinginan dan kemauan kita sendiri.

Ketika definisi tentang bahagia kita letakkan dengan cara banyak menguliti orang lain dan meminta mereka bersikap begini dan begitu, yang tentunya mengharuskan mereka mengikuti apa yang kita mau, saat itulah sebenarnya kekurangan adalah menjadi milik kita dan bukan mereka.

Betapa tidak, dalam menyusun rencana pembahagiaan diri kita tersebut, maka harus dihadirkan adanya sikap memaksa, tak jarang malah berakhir dengan konflik. Padahal dengan bersabar, hal itulah yang bukan hanya menjadikan kita lebih bahagia, tapi sekaligus memberi peluang kita untuk lebih mulia.

Lalu, apakah ada kebahagiaan dalam kesabaran? Tentu saja ada. Seseorang yang beriman kepada Allah, akan selalu bahagia dalam sabarnya. Hal ini wajar, karena pikirannya akan tertuju kepada nikmat pahala dan kebahagiaan akherat yang pasti Allah berikan sebagai balasannya. Dan sekali lagi, hal ini hanya berlaku hanya untuk para hati yang benar- benar beriman kepada Allah.

Selanjutnya, dalam kesabaranpun juga terkandung kebahagiaan yang lain. Seperti kata pepatah, bahkan batupun bisa akan berlubang jika ditetesi air secara terus menerus. Garis hidup yang memang tidak mudah di lalui pada awalnya dengan sikap yang bernama sabar, namun di episode akhir, InsyaAllah kita akan berhasil mengubah seseorang, yang tanpa sadar justru akan mencontoh banyak hal baik yang telah kita lakukan, hanya karena kita mampu bersabar.  Dan adalah sebuah kepastian bagi siapapun yang akhirnya menemui dirinya di masa depan menjadi pribadi yang disegani dihadapan kawan maupun lawan.

Selain itu, ada sebagian orang yang mampu untuk bahagia dengan mensyaratkan ini dan itu kepada dirinya sendiri dan orang lain, dimana semua itu seakan melampaui batas kewajaran. Atau dalam kata lain, tiada rasa syukur dalam kamus hidupnya. Dan apakah sebenarnya dia bahagia ketiika telah terpenuhi segala yang dia inginkan ?. Mungkin tidak. Karena yang ada, bahkan sebenarnya dia menjadikan hidup yang sekali kali nya ini, menjadi budak dari ambisinya yang tiada habis dan dan tidak ada ujungnya.

Nafsunya merongrong terus tanpa batas dan waktu. Sungguh, sebenarnya dia adalah orang yang paling sengsara, banyak tertipu dan paling pantas dikasihani. Dan tidak mustahil, justru bahkan dalam akhir kisah hidupnya, dia belum sempat menikmati kebahagiaan yang hakiki, yaitu berada dekat Allah subhanahu wataala, karena jatah hidupnya sudah habis untuk keperluan nafsunya sendiri. Padahal ketika maut telah merenggutnyapun, dunia yang selama ini di belanya, tidak serta merta akan mati dan mengikutinya, kecuali meninggalkannya dan hanya mengingatnya dalam nama “kenangan”. 

Maka jadilah pahlawan bagi diri sendiri, yaitu yang mampu mengangkat derajat diri sendiri lewat kesabaran, dan hadiahi diri kita selalu dengan sebuah rasa syukur kepada Allah. Sungguh, orang yang damai dan bahagia dengan dirinya, sesungguhnya tidak memerlukan apa- apa lagi, Kecuali Allah, yang Maha membantu dalam menyelesaikan masalahnya, dan selalu akan menyertai hari- harinya. Dan dengan begitu, bisa disimpulkan pula, bahwa dia telah menjadi pemimpin terbaik atas dirinya, yaitu dengan menyandarkan pilihan dan keluh kesahnya dengan yang Maha Menyelesaikan, saja.  Dan ketika kita sudah merasa memiliki dan begitu dekat dengan Allah, maka semudah itu kita akan mutuskan, ternyata gampang mendapatkan sebuah bahagia.

(Syahidah/voa-islam.com)

Aku Seorang Munafik?

Posted: 31 Desember 2011 in Renungan

Dengarkanlah, aku sedang bertanya, dengan sangat jujur, kepada hatiku, apakah aku seorang munafik?

Aku mengakui Allah sebagai tuhanku, tapi entah sudah berapa banyak hal dan makhluk yang aku tempatkan sejajar denganNya bahkan lebih, dihatiku.

Aku mengaku muslim, namun lihatlah perhitungan rinci yang pasti aku kemukakan di depan, ketika telah sampai waktunya aku harus mengerjakan kewajibanku sebagai muslim. Bahkan sebenarnya aku adalah sudah lebih dari tahu dan sadar bahwa aturan Allah telah jelas tentang segala sesuatu dalam hidup. Namun, entah kenapa aku tetap dengan berat hati menanggalkan semua. Apalagi lah, jika bukan karena aku tak mau rugi dalam urusan dunia. Ketakutan dan kemalasan seketika menyelubungi kepala dan menjalar ke hatiku yang akhirnya akupun menghentikan arus kebaikan itu untuk menemani hari- hari itu.

Aku mengaku muslim, namun laku, tindakan, dan tutur kataku tak lebih dari menghujat, memecah belah dan merusak citra islam dan harga diriku dan saudaraku sendiri. Dan … ajaibnya, aku tetap menganggap hal itu sebagai sebuah kebanggaan dan atau prestasi dari diriku yang akan mungkin membuahkan pahala dimata Allah. Ya robb, sudah tidak waraskah aku?

Aku mengaku muslim, namun aku tak pernah berbangga dengan identitasku ini, dan malah menghujat sesamaku yang telah mendapat rahmat Allah untuk dapat menerapkan aturan islam lebih baik dan lebih nyata dari pada aku. Entah pikiran setan apa yang menggelayuti hatiku, dan lihatlah malah kesombongan dan caci maki atas mereka yang selalu aku berikan tanpa henti.

Aku mengajarkan kebaikan namun saking sibuknya diriku dengan sebuah pengajaran, aku lupa mengajari diriku untuk mempraktekkan kebaikan itu dalam kehidupanku sendiri. Tidak ada yang tahu memang, ataupun tidak ada yang repot dengan mencampuri urusan hidupku, namun ternyata hatiku sendiri yang berprotes kepadaku dan betapapun aku mencoba lari darinya, aku tetap tidak bisa.

Aku mengakui sebuah kebaikan dan manfaat dari kejujuran. Namun diam- diam aku mengkhianati hati nuraniku dengan berbuat curang pada Allah, diriku sendiri, kepada sesamaku. Aku menyangka Allah pun hanya diam dan tanpa akan menyeruakkan aibku ini, karena ini adalah rahasiaku dengan Nya. Selanjutnya dengan bangga dan penuh kamuflase atas sebuah julukan orang alim dan jujur, aku berjalan di muka bumi, dengan tetap tenang.

Manusia lain menggelariku orang yang amanah dalam menjaga dan memenuhi titipan mereka kepadaku. Namun dibelakang mereka, amanah itu aku selewengkan dengan alasan kebutuhan dan selera duniaku. Dan jika akhirnya mereka mengetahui hal itu, maka dengarlah untaian kata- kata indah yang dengan keahlian dan kepandaianku aku rangkai dengan berbagai cara. Apalagi lah tujuannya selain agar mereka tetap mengenaliku sebagai yang terbaik.

Lihatlah betapa mulutku memang benar- benar mengekspresikan isi hatiku. Isi hati yang aku tuntun untuk menjadi munafik, namun ternyata aku tidak sekuat itu untuk memaksanya. Suara bisikan kebaikan dari Allah lewat hati nuraniku, tetap begitu kuatnya sehingga membentuk sebuah pertentangan batin yang tidak sanggup aku kuasai permainannya.

Apakah aku seorang munafik?

MasyaAllah, ternyata aku seorang munafik. Betapa banyak manusia yang menilaiku baik, namun itu sama sekali tidak mengurangi teriakan batinku yang memaki diriku karena aku sebenarnya adalah seorang munafik. Hatiku protes karena aku telah mencurangi Allah walaupun hanya dia sendiri yang mengetahuinya. Aku ternyata tidak bisa lari sama sekali dari umpatan hati nuraniku yang pasti akan jujur tentang adanya aku.

Ya robb, ampunilah hambamu yang sombong ini, yang telah berbangga hati dengan dinilai baik dan berusaha agar dinilai baik dihadapan manusia, namun sebenarnya rendah di hadapanMu. Sanggupkah hamba ketika “video” keburukanku itu nanti akhirnya akan diputar kembali dan di pergelarkan pada semua makhlukmu diakherat nanti? Sanggupkah hamba saat nanti tiada lagi ampunan darimu dan rahmat untuk hamba, untuk tertutupnya dengan rapi semua aib dan kekurangan hamba?

Ya Allah, semakin manusia menilai baik terhadap hamba, sebenarnya semakin dalam sakit yang hamba rasakan. Sakit lantaran semakin keras pula teriakan hati nurani hamba yang mengatakan bahwa hamba adalah seorang MUNAFIK, yang hanya pandai memoles jati diri dengan sejuta kebohongan, kecurangan dan dan topeng demi terlihat sempurna dihadapan manusia.

Ya Allah, ampunilah hamba… Ampunilah hambamu yang hina ini…

(Syahidah/voa-islam.com)