Sosok Manusia Bernama Ayah

Posted: 14 October 2010 in Renungan

Kota Bandung sore ini seperti biasanya, macet, apalagi pada jam lepas kerja seperti saat ini. Pengguna jalan seolah ingin menguasai setiap jengkal bentangan jalan. Sikap semau gue dan juga jalan yang berlubang menambah deretan panjang penyebab kemacetan.

Sore ini tepat di depanku, duduk seorang bapak separuh baya, dengan penuh kasih mengusap kepala anaknya yang berkali-kali menguap karena kantuk. Menurut taksiranku, si bapak berusia 56 tahun dan si anak sekitar usia kelas empat SD. Aku merasa iri dengan kemesraan yang mereka pertontonkan.

***

Pikiranku menerawang. Terlintas kembali perjalanan waktu yang telah kuhabiskan bersama Ayah. Aku masih ingat ketika suatu waktu, Ayah mengajakku mengunjungi rumah kakek yang jauh dari rumah kami. Ya, kakekku seorang petani yang sangat sederhana. Walaupun dengan ekonomi yang tidak menentu kakek berhasil mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan, mengantarkan mereka menjadi seorang guru. Padahal pada masa itu, pendidikan formal menjadi hal yang sangat istimewa dan mahal.

Ayah tunjukkan kepadaku bagaimana seorang anak harus bersikap terhadap orang tuanya. Ayah ajari aku, tentang bakti seorang anak kepada orang yang telah bersusah mendidiknya.

Ayah, masih ingatkah engkau? Saat usiaku baru lima tahun. Hari itu kita berdua, bersepeda tua yang Ayah miliki, kita lalui puluhan kilometer jalan yang membentang menuju rumah kakek. Susuri jalan berbatu dengan hamparan tanaman padi yang menghijau.

Aku masih sering tersenyum mengenangnya, ketika suatu waktu sekembali kita dari rumah kakek, sepeda yang kita kendarai dikejar kambing karena melihat sayuran yang kita bawa. Kita terjerembab ke sawah, dan kita tertawa bersama. Hhhh… alih-alih menghindari kejaran kambing, sayuran yang kita bawa tidak ada yang tersisa.

Ayah… ingin rasanya kuulangi kembali putaran waktu ke masa kecilku. Ingin rasanya kurasakan lagi keceriaan, ketika Ayah memintaku menginjak-nginjak punggungmu yang penat setelah seharian bekerja, tanpa tahu mengapa harus kulakukan itu?

Ayah… begitu sabarnya engkau, ketika mendengar celoteh rekan sejawat bahwa kita penghuni “pilla” -nyempil di sakola- (tinggal di rumah dinas) yang abadi. Walaupun sebenarnya aku tahu, begitu besarnya harapan Ayah mempersembahkan kepada kami anak-anakmu rumah bagus yang kita idamkan. Tidak seperti rumah dinas yang kita tinggali, yang harus sering kita bersihkan lantainya dari runtuhan dinding yang mengelupas di sana-sini. Alhamdulillah, setelah 15 tahun jadi penghuni rumah dinas, kita bisa punya rumah sendiri, walaupun sangat jauh dari rumah ideal yang selalu kita perbincangkan.

Ayah berikan semua gaji yang tak seberapa di setiap awal bulan, demi pendidikan dan uang jajanku. Padahal aku tahu, engkau sering mengabaikan kebutuhanmu, engkau sering lupa untuk beli baju, sepatu dan tas yang akan kau pakai mengajar. Pernah suatu waktu kudengar murid-muridmu menertawaimu, karena tas, sepatu dan baju yang kau kenakan selalu yang warna biru, karena hanya itulah yang kau punya. Ayah tidak pernah malu, pergi mengajar bersepeda walau murid-muridmu sering mencemoohmu, bahkan sampai kini, ketika sepeda motor murah banyak ditawarkan di berbagai iklan. Aku tahu, engkau ingin sekali suatu waktu pergi mengajar dengan langkah ringan tanpa susah payah mengayuh sepeda yang kau kendarai. Tapi demi aku, demi anak-anakmu, Ayah relakan hidup bersahaja, hidup berdua bersama ibu dalam kesederhanaan.

Delapan tahun sudah kita tidak serumah, sejak aku memulai kuliah di kota ini. Aku rindu ayah… setelah kemesraan kita seolah sirna, karena kesombonganku yang jarang menjenguk Ayah dengan alasan sibuk bekerja, tidak betah dengan cuaca yang panas atau beribu alasan yang menghambur dari mulut ini. Padahal, cukup dengan tiga jam saja waktu yang mesti kulalui, perjalanan untuk menemuimu.

Ayah… dalam kesendirian hidupku di kota ini, aku rindu teriakan Ayah ketika menegurku untuk segera mandi dan berwudhu saat waktu shubuh tiba. Aku rindu untuk mendengar cerita masa kecil Ayah saat menggembala kerbau, mandi di sungai atau tentang kegiatan Ayah menghabiskan hari bulan ramadhan di surau mengkaji ilmu agama. Aku rindu dengan nasihat Ayah yang selalu menyejukkan. Masih selalu terdengar kata-kata Ayah ketika aku sering menangis karena dijahili teman-teman sekolah, “anak laki-laki harus tangguh!”.

Ayah… aku yakin Ayah pasti lupa dengan kelancangan kata-kata yang menghambur dari mulutku yang busuk ini, kedurhakaan sikapku terhadapmu selama ini, dan Ayah pasti telah lupa dengan perilaku yang selalu menyakitkan hatimu.

***

Sahabat, waktu terus berlalu, kita sering tidak sadar, bahwa setegar apapun Ayah kita, mereka manusia biasa, yang selalu butuh tegur sapa dan canda kita, hanya untuk sekedar melepas ketegangan karena masalah yang selalu menghampiri. Kita sering tidak sadar, perhatian berlebih yang semestinya kita berikan kepada orang tua terus berkurang tergerus oleh aktivitas yang menyibukkan.

Bersyukurlah bagi kita yang masih mempunyai orang tua yang lengkap, yang masih menyertai kita melewati hari-hari kehidupan ini. Karena ada di antara kita yang telah lama ditinggal orang tuanya, mendahului menghadap-Nya atau karena alasan lain, bahkan ada sahabat kita yang tidak pernah tahu, siapa ayah-ibunya. Ayo ah, jangan tunda lagi untuk memberikan pengabdian yang terbaik untuk mereka. Karena kesuksesan mereka sesungguhnya adalah kesuksesan membesarkan kita, kesuksesan manakala setiap sisi kehidupan kita selalui dihiasi oleh perilaku yang Rasulullah contohkan, berkata dan berbuat hanya mengharap ridha Allah Swt.

Ya Allah limpahkan kasih-Mu ya Muhaimin.

Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa membalas kasih sayang yang telah mereka curahkan. Mereka akan terus dan terus mendoakanku dalam sujud malamnya, dalam derai air mata pengharapannya, demi kesuksesan dunia akhiratku.

Ya Allah… muliakan mereka di sisi-Mu wahai Maha Pemberi Rahmat, di Jannah-Mu.

Ayah, setahun lagi usai sudah tugas formalmu mengabdi demi kecerdasan anak-anak negeri ini. Semoga derap langkah dalam mengisi hari tuamu, selalu dihiasi dengan munajat dan keikhlasan dalam beramal dalam rangka menjemput kematian yang khusnul khatimah, Amiin… semoga.

Panorama turun? Aku tersentak, ehm… sudah maghrib nih. Bergegas aku berlomba dengan para jamaah pengajian, memburu mesjid terdekat untuk segera memenuhi panggilan-Nya. (Isola, selepas kerja, mengenang sekian tahun perjalanan, saat kerinduan yang tak tertahankan terhadap ayah).

*cerita sahabat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s