Tanyakan Pada Rumput yang Bergoyang

Posted: 29 October 2010 in Renungan

Menyimak berbagai berita akhir-akhir ini, saya terngiang dengan lirik lagunya Ebiet G. Ade. Entah apa yang ada dalam pikirannya ketika puluhan tahun yang lalu, dalam lagu yang meledak menjadi hits, dia menggugat dan ingin bertanya pada rumput yang bergoyang. Adakah dia tak lagi punya asa? Adakah dia frustasi?

Namun saya bisa menangkap apa isi gugatannya ketika dia berteriak, “Mengapa di tanahku terjadi bencana?” Inikah juga yang ditanyakan bangsa kita kini?

Konon, Ebiet sudah mengabarkan berita ini kepada laut, karang, ombak bahkan matahari. Sayang, dia mengaku tak memperoleh jawaban. Yang bisa dia lakukan adalah menduga-duga. Mungkinkah ini murka Tuhan? Mungkinkah ini karena alam tak lagi bersahabat?

Entahlah. Boleh jadi Allah memang sedang murka. Namun saya kira benar bahwa alam tampaknya mulai enggan bersahabat dengan kita. Merapi memuntahkan laharnya. Bersamaan dengan itu Mentawai tersapu gelombang. Pun dengan Jakarta yang dibuat lumpuh dengan genangan airnya.

Api. Air. Inikah tanda kemarahan alam? Jika iya, mengapa Allah ijinkan alam untuk mengeskpresikan kegalauannya? Sampai kapan Allah ijinkan alam untuk marah? Alam marah, benarkah ini juga berarti Allah sedang marah?

Ah, tiba-tiba gugatan dan renungan Ebiet puluhan tahun yang lalu terdengar kembali dan mampir ke benak saya. Bedanya, saya masih punya harapan, walaupun diimbuhi sedikit rasa cemas.Harapan itulah yang membuat saya tak bertanya pada rumput yang bergoyang. Harapan itulah yang membuat saya “merayu” Allah dalam doa-doa saya. Semoga Allah segera menyuruh alam berhenti “ngambek”.

Rumput bergoyang,

Merapi berguncang,

Jakarta tergenang,

Mentawai tersapu gelombang.

Ah…duhai alam, terimalah salamku, bukankah tak baik kalau kita bertengkar lebih dari tiga hari?

Namun di titik ini pula akhirnya saya teringat firman Allah,

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ}

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar Ruum:41).

Saya kembali merenung dan berkhusnudzon kepada Allah. Mungkin ini semua adalah wujud kasih sayang Allah agar bangsa ini tidak semakin terlena dengan kemaksiatan dan penyimpangan di negeri ini. Semoga ini bukan wujud murka Allah seperti yang aku kira sebelumnya. Semoga semua ini hanya untuk menyadarkan kita agar kita bersahabat dengan alam.

Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini dari segala dosa. Jika musibah yang sedang melanda negeri ini adalah peringatan darimu, hamba ikhlas menerimanya. Hamba hanya memohon kekuatan agar bangsa kami kuat menjalani ujian ini.

Lahaula walla quwwata illa billahil’aliyyil’adzim.

 

Advertisements
Comments
  1. anis says:

    Hmm..sepertinya banyak yang ‘tidak sadar’ bahwa selama ini telah begitu banyak mendzolimi alam;
    padahal peringatan Allah telah sebegitu jelasnya,
    dan bumi ini bukan semata hak kita…ada juga hak generasi penerus di dalamnya 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s