Jogja di Mata Seorang Tukang Bakso

Posted: 19 February 2011 in Kisah Hati

Sore itu (18/2) Jogja sedang mati listrik. Saya bermaksud untuk keluar sejenak untuk sekedar refreshing setelah seharian banyak beraktifitas di dalam kamar. Tapi setelah mengayuh sepeda, tepat di pos ronda samping rumah ada penjual bakso sedang berteduh. Biasanya tempat ini memang menjadi spot khusus pedagang keliling menjajakan dagangannya.

Tiba-tiba saya merasa ingin menikmati nikmatnya bakso yang jarang saya rasakan di Jogja. Mie ayam adalah menu kuliner yang biasanya menjadi pilihan jika jalan keluar. Kuposisikan sepedaku di samping pos ronda, lalu kupesan satu mangkok bakso. Menunggu beberapa saat, baksopun siap dihidangkan. Karena masih agak panas, saya coba untuk sedikit berbincang-bincang dengan Mas Agung (nama samaran).

Mas Agung adalah asli dari Malang yang sudah beberapa bulan tinggal di Yogjakarta. Setiap harinya diisi dengan berkeliling menawarkan bakso kepada penggemar dan pemikmat setia. Terlihat baksonya laris hari ini, karena terlihat di gerobak, pentolan bakso hanya tinggal sedikit saja tersisa. Kucoba untuk bertanya tentang keluarganya. Ternyata dia telah berkeluarga yang baru saja dikaruniai seorang bayi dari istrinya yang juga asli dari Malang. Anaknya dilahirkan caesar, sehingga memaksanya untuk bekerja keras menutupi kebutuhan bayinya Tabungan yang selama ini dikumpulkan telah habis untuk membiayai rumah sakit. Bahkan Ia sempat menganggur beberapa waktu, tidak jelas apa sebabnya.

Lebih dalam masuk dalam perjalanan hidupnya, ternyata Ia punya sebuah penilaian khusus dengan Jogja. Benar Ia dilahirkan di Malang, tapi awal mulanya Ia berdagang bakso adalah di kota pariwisata ini. Setelah sekitar 5 bulan berlalu, Ia pindah ke Gresik tepat di samping sebuah pabrik terkenal di sana. Akhirnya dari seorang keluarga, Ia diajak untuk ikut ke Mataram, pulau Lombok. Di sana Ia juga menjadi penjual bakso yang sebagai juragannya adalah keluarga yang tidak lain adalah pamannya.

Cukup lama menjalani kisah-kisah di Mataram sebagai penjual bakso, kalau tidak salah sekitar 8 tahun. Waktu yang cukupa lama untuk bisa bertahan berkarir sebagai penjual bakso. Sempat juga Ia menceritakan bagaimana kerasnya hidup di sana. Mulai dari harga barang yang sangat murah harga jualnya, bahkan es campur masih ada yang seharga Rp 500,-. Belum lagi dengan maraknya maling atau sejenisnya, terutama di sekitar tempat umum seperti terminal. Namun, itu tidak menjadi kendala baginya. “Cukup dengan berkawan dengan mereka, maka niscaya mereka akan tidak mengapa-apakan saya” ungkapnya. Satu pembelajaran yang berarti, gumam dalam batinku.

Sempat Ia juga mengatakan ” tukang bakso itu, harus PD (Percaya Diri) Mas, kalau tidak jangan harap bisa laku”. Sehingga saat ini Ia merasa tidak malu lagi dengan profesinya. Masa mudanya juga sudah ditempa dengan berjualan bakso.

“Tidak hanya sampai di situ Mas” sambungnya. Nampaknya Ia termasuk pribadi yang terbuka, terlihat begitu legowonya cerita hidupnya diceritakan. Setelah 8 tahun itu, Ia memutuskan untuk kembali ke Jogja. Namun sebelumnya sempat Ia ikut bersama ayahnya bekerja dalam kegiatan bongkar muat barang ke mobil yang sebagai sopirnya adalah ayahnya. Karena merasa tidak betah itu, akhirnya Ia memutuskan ke Jogja.

Ternyata selama bekerja dengan ayahnya, ia telah menambatkan hati pada seorang wanita, yang pada saat itu ia temui di Bali. Saat kembali ke Jogja mereka selalu dalam kebersamaan. “Dari situ saya merasa ada suka sama dia Mas” ceritanya. Akhirnya tak berapa lama ia menikah. Istrinya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tapi saat ini tengah merawat bayinya, jadi tentu saja tidak bekerja. Dengan kehadiran istrinya ini, ia mengaku tidak seperti masa mudanya dulu. Ia merasa memiliki tanggung jawab yang besar, baik kepada anak dan istrinya. “Saya merasa sudah tidak pantas lagi, memiliki sifat keanakmudaan Mas, kasihan Anak istiku di rumah” katanya.

” Lalu kenapa Mas tidak berjualan di Malang? toh istrinya ada di Malang” tanyaku.

Jogja itu beda mas” jawabnya singkat.

Seterusnya Ia bercerita bahwa Jogja menyimpan banyak keistimewaan terlepas dari sebatas yang kita kenal. Atmosfer Jogja berbeda dengan kota-kota lain.

“Walau saya lahir di Malang, tapi saya lebih kenal dengan Jogja” lanjutnya.

Kehidupan saling menghargai ternyata menjadi alasan tersendir bagi Mas Agung. Walau hanya sebatas tukang bakso, ia belum pernah merasakan, mendengarkan hinaan yang menyudutkan dirinya. Kecintaan orang Jogja terhadap sesama adalah yang membuatnya betah dan memiliki penilaian  tersendiri. Begitupun halnya dengan sesama pedagang, mereka tidak mengenal dengan hal persaingan. “Semua dipasrahkan kepada yang kuasa Mas” tuturnya.

Keramah-tamahan orang Jogja terhadap sesama menjadi alasan kedua Mas Agung. Keistimewaan Jogja diilustrasikan dengan kerukunan antara warga pendatang dan warga asli Jogja. Tidak ada pernah terdengar konflik kepentingan tertentu di Jogja. Sehingga setiap orang merasa tenteram, damai, dan bebas dalam berekspresi.

Di Jogja semua ada, ia tidak ingin kesemua itu termasuk dalam hal negatif. Karena ia tidak pernah menilai Jogja ini sebagai kota yang tak bersahaja. Yang Ia maksud adalah seluruh strata ada di Jogja. Mulai dari mahasiswa, pejabat, pengangguran, seniman, wirausaha muda, dan lainnya. “Mereka enak dimintai ilmunya” tuturnya. Jogja terkenal dengan sebutan kota pelajar. Mungkin karena keadaan inilah arus informasi pengetahuan di kota ini menjadi begitu cepat. Pluralisme di Jogja begitu kental, dari kalangan warga asli tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran warga asing sekalipun. Semua bergerak sesuai dengan koridornya masing-masing.

Dari cerita itu, saya terharu. Bahwa tukang bakso saja begitu menghargai Jogja dengan sebegitu dalamnya. Seolah menganggap Jogja sebagai kota yang tidak asing baginya. Apalagi bagi seorang yang notabene warga Jogja asli.  Jogja Memang Berhati Nyaman.

Salam Ngayogyakarto

http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/19/jogja-di-mata-seorang-tukang-bakso/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s