Kedermawanan Rakyat Jelata

Posted: 4 November 2012 in Motivasi, Renungan
Tags: , ,

Siang itu di atas trotoar pinggir jalan, persis di depan sebuah toko buku besar yang ternama, seorang pedagang siomay sedang sibuk melayani pembelinya dengan cekatan. Dari panci di atas sepedanya terlihat setumpuk makanan khas yang sangat memancing selera. Kol, kentang, tahu, dan tentunya siomay menjadi hiasan yang menggiurkan di dalam panci yang terlihat masih penuh.

Abang tukang siomay ini memiliki kumis dan jenggot tipis, wajahnya terlihat masih muda, bersih dan penuh semangat. Ia serius mengambil beberapa pilihan makanan dari dalam panci sesuai pesanan dari pelanggan dan meletakkannya dalam piring yang tersedia. Ia pun memotong-motong panganan itu kecil-kecil sebelum ditambahkan bumbu kacang, kecap dan saos sambal. Siang yang terik dan waktu makan siang membuat sekeliling pedagang ini ramai dengan pengunjung.

Tiba-tiba dari pinggir jalan, seorang tukang solder panci keliling, yang sedang memikul peralatannya naik ke atas trotoar yang dekat dengan tukang siomay ini. Tukang solder keliling ini terlihat sudah agak tua, keringat yang terlihat meleleh dari wajahnya menunjukkan ia telah berjalan cukup jauh di bawah terik matahari. Topi berwarna kusam di atas kepalanya jadi penaung dari teriknya mentari, yang seperti sedang menatap tajam ke orang-orang di bawahnya. Wajahnya terlihat kusam dan lelah, seolah terbakar oleh matahari yang siang itu bagaikan tidak menyisakan kesejukan. Ada panci kecil tergantung di ujung gendongan peralatan yang ia pikul di pundaknya.

Tukang solder keliling ini melewati tukang siomay, dan keduanya pun bertatapan mata. Seperti sudah kenal dekat, tukang solder pun mengangkat sebelah tangannya seolah memberi salam, dan di balas dengan senyuman oleh tukang siomay, yang masih sibuk mengambil makanan untuk para pelanggan.

Sejurus kemudian, tukang siomay lalu bertanya dengan isyarat kepada tukang solder keliling, “sudah makan?”. Tampaknya ia menangkap kelelahan di wajah tukang solder keliling, dan muram wajahnya yang mungkin terkait dengan belum banyaknya order panci bolong yang hari itu dia terima.

Dengan sedikit gelengan di kepala, tukang solder panci menjawab pertanyaan itu, sambil berjalan melewati kerumunan orang di atas trotoar menuju jembatan penyeberangan di depannya.

Mendapat jawaban itu, tukang siomay pun melambaikan tangannya sambil menawarkan siomaynya, namun tukang solder sambil tersenyum lalu memberikan isyarat dengan tangannya seolah ia menjawab “tidak usah”.

Melihat reaksi tukang solder yang terus berlalu, si tukang siomay terlihat seperti ingin memberikan sedikit barang dagangannya dengan gratis, dengan tergesa-gesa mengambil sebuah kantong plastik. Dengan cepat tangannya menusuk-nusuk ke dalam panci, dan mengeluarkan beberapa potong makanan untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik yang ada di tangannya.

Tukang solder keliling ini tetap berlalu, berjalan menuju jembatan penyeberangan yang berada beberapa meter di belakang tukang siomay. Ia pun mulai melangkah ke atas jembatan dengan perlahan.

Dengan segera si tukang siomay lalu menambahkan bumbu-bumbu yang diperlukan, sambil wajahnya sesekali menoleh ke belakang, seperti takut kehilangan tukang solder keliling itu. Setelah bungkusan plastik berisi siomay itu lengkap, dengan sedikit berlari kecil ia menyusul tukang solder keliling itu, menaiki tangga penyeberangan dan menepuk pundaknya.

Si tukang solder akhirnya menoleh dan senyum di wajahnya menunjukkan bahwa ia sangat berterima kasih karena telah mendapatkan sekantong siomay dari abang pedagang siomay, yang mungkin selalu berpapasan setiap hari saat ia berkeliling menjajakan jasanya.

Si tukang siomay pun kembali ke sepedanya, ada kepuasan di air mukanya dan ada senyum kecil di wajahnya. Ia kembali melayani pembelinya yang mengantri di dekat sepedanya.

Di siang hari yang terik ini, ada pelajaran tentang kegigihan usaha, persahabatan sejati dan kedermawanan yang ditunjukkan oleh rakyat jelata, semoga menjadi pelajaran yang baik untuk kita semua.

http://goo.gl/ bAo0J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s