Posts Tagged ‘inoac’

RamadhanAbdullah setiap harinya membagikan kurma untuk berbuka puasa di masjid. Setiap tiga butir kurma ia bungkus dengan plastik kecil lalu dimasukkan ke dalam kardus untuk ia serahkan ke masjid. Satu kardus berisi kurang lebih seratus plastik kecil setiap hari ia antar ke masjid yang tak jauh dari tempatnya tinggal.

Suatu saat seorang temannya bertanya, “Kenapa tak kau sisipkan kertas kecil bertuliskan nama usaha atau tokomu di setiap plastik kecil kurma itu. Itung-itung beramal sekalian jadi media promosi.”

Santai ia menjawab, “Aku belum bisa seperti si fulan yang begitu ikhlas dalam bersedekah. Kalau aku sisipkan nama usahaku, aku masih merasakan ada sedikit rasa pamer dan terselip kesombongan karena bisa berbagi. Padahal apalah arti beberapa butir kurma tersebut dibanding rejeki Allah yang berlimpah kepadaku. Berbeda dengan si fulan, terkadang ia menuliskan nama usahanya dalam berbagai kegiatan amal karena insya Allah itu bernilai syiar agar menjadi contoh bagi orang lain dalam hal semangat bersedekah. Insya Allah ia benar-benar ikhlas. Kalau aku…aku masih khawatir dengan hati dan niatku. Biarlah aku seperti ini sembari belajar ikhlas. Toh Allah tidak akan pernah salah dalam memberikan rejeki kepada hamba-Nya.”

Jawaban santai itu membuat temannya tertegun. Betapa selama ini ia telah sering mencampuradukkan antara sedekah dengan hal lain yang bersifat keuntungan duniawi. Ia sedekah tapi berharap keuntungan-keuntungan di dunia yang tidak seberapa jika dibanding dengan balasan di akherat nanti. Langkah Abdullah dalam belajar ikhlas menjadi renungan baginya.

Satu hal lagi yang membuat ia kagum dari seorang Abdullah, begitu husnudzonnya ia. Abdullah menilai positif apa yang dilakukan oleh si fulan. Tak ada sedikitpun pikiran bahwa si fulan itu pamer meski sering sedekah dengan menunjukkan namanya atau nama usaha dan tokonya. Bahkan ia memuji si fulan karena bisa jadi contoh agar orang lain terpicu untuk ikut bersedekah juga.

Bulan Ramadhan 1437 Hijriyah tinggal dua hari lagi. Mari bersihkan hati, siapkan amalan-amalan terbaik untuk meraih keberkahan Bulan Ramadhan.

Kulon Progo, 28 Sya’ban 1437 H
@mauludcorp | @duniabusa

Liputan Media

Posted: 28 April 2013 in Tips Bisnis, Umum
Tags: , , , , ,
Liputan TV“Assalamu’alaikum” sapa lelaki muda siang itu
“Wa’alaikumsalam warah matullah wabarakatuh. Sepertinya kita pernah ketemu, tapi dimana ya?” jawab saya
“Iya, kalau gak salah di seputaran Warung Buncit. Mas yang anggota TDA itu kan?” sahut dia ramah.
Kurang lebih seperti itulah skenario awal perbincangan saya dan reporter Wesal TV Indonesia. Ya, sabtu siang kemarin Dunia Busa diliput salah satu TV yang basicnya tayang di Timur Tengah. Baru di tahun 2012 kemarin tayang juga dengan versi Indonesia yang bisa dinikmati dengan satelit. Studio mereka yang di Jakarta kebetulan juga memakai produk Dunia Busa untuk sofanya.
Rekaman yang modelnya dibuat dialog santai itu alhamdulillah berjalan lancar dan tidak terlalu banyak retake. Pertanyaan seputar kapan usaha dimulai, apa yang menginspirasi dsb mengalir lancar dari sang reporter.
Seperti yang saya tulis di bagian prolog, sebelum rekaman kami diskusi terlebih dahulu dan saya ingin menonjolkan peranan TDA dalam usaha saya. Dalam rekaman kemarin, porsi perbincangan mengenai TDA terbilang cukup banyak. Mulai kapan dibentuknya TDA, Founder, Visi Misi, Nilai TDA, kegiatan, member dsb. Termasuk rencana kunjungan ke Turki dalam waktu dekat ini. Mohon maaf juga kalau penjelasan saya ke mereka mungkin belum sempurna atau bisa jadi ada yang kurang tepat. Semoga nanti ada yang melengkapi atau meluruskan dari Pak Mualif atau rekan TDA yang lain. Ya, selasa besok Insya Allah mereka akan meliput juga usaha Pak Mualif.
Seperti yang disarankan Om Eko June dan Kang Enjang, akhirnya malam harinya crew yang berjumlah 9 orang itu berkesempatan menikmati nyamannya produk Dunia Busa. Berhubung Ahad pagi masih ada rekaman di wilayah Cikarang, mereka sepakat untuk menginap di tempat kami agar tidak perlu bolak-balik ke Jakarta.
Malam harinya sambil melepas lelah saya ngobrol dengan para crew. Mereka antusias sekali dengan komunitas TDA. Singkat cerita akhirnya mereka berencana membuat satu program yang mengulas tentang TDA. Rencana mereka akan membuat lebih dari 30 episode yang berisi liputan usaha member TDA, mulai yang usaha kecil sampai yang skala besar. Baik itu kuliner, kerajinan maupun jenis usaha yang lain. Tidak hanya yang di Jabodetabek, mereka juga tertarik meliput yang ada di Solo, Jogja, dan kota-kota lain.
Saya berharap program tersebut dapat segera terlaksana dan TDA akan semakin memberikan manfaat kepada masyarakat lewat berbagai media. Milist, offline, TV, radio, dsb.

fly-reTulisan saya minggu lalu yang bertajuk : Kenapa UMR 2013 Harus Menjadi Rp 2,5 juta/bulan menuai sejumlah komentar. Beberapa komentar memberikan counter-argument (yang isinya bahkan lebih panjang dibanding tulisan yang saya posting). Counter argument itu masuk akal dan layak diapresiasi. Toh, sejarah jua yang akan jadi saksi : apakah tulisan saya atau counter argument itu yang mengandung sekeping kebenaran.

Namun yang lebih getir adalah fakta ini : bahkan meski angka Rp 2,5 juta itu disetujui, jumlah ini mungkin belum juga memadai. Dalam tulisan berjudul Berapa Penghasilan yang Harus Anda Dapatkan untuk Hidup dengan Layak, saya menghitung angka penghasilan minimal agar Anda bisa hidup sejahtera dan bisa beli rumah sendiri, adalah sekitar 15 juta per bulan.

Ingat, harga emas naik 3 kali lipat dalam lima tahun terakhir. Jika gaji Anda tidak naik dengan skala yang sama, ya wasalam : tanpa Anda sadari gaji sampeyan itu sudah dicuri oleh perampok bernama inflasi.

Jadi mari di pagi ini, kita bicara tentang cara supaya penghasilan Anda bisa naik secepat harga emas.

Perdebatan mengenai eksploitasi buruh dan pegawai rendahan dengan upah murah (lengkap dengan segala justifikasinya) sejatinya telah berumur ratusan tahun. Dua abad silam, paman Karl Marx pernah menguliknya dengan sangat memukau dalam buku Das Kapital (dulu ketika jaman masih kuliah, kami rajin mengunyah pemikiran Marxisme yang elegan itu, sambil ditemani dua bungkus nasi kucing. Dulu……ketika kami masih idealis dan hidup susah…).

Marx bilang, untuk memperbaiki nasih buruh yang malang itu, selalu harus dilakukan gerakan demo, pemogokan masal, menggertak kaum borjuis kapitalis, dan bahkan kalau perlu meretas jalan revolusi. Doh.

Namun saran Paman Karl Marx itu terasa melelahkan. Kita jadi terlalu menunggu dan bergantung pada pihak lain (kebijakan negara, kebijakan pengusaha, dll) untuk merawat masa depan anak istri.

Dan persis di titik itulah kita lalu bersua dengan sebuah keyakinan : mengubah nasib Anda harus selalu dimulai dari diri Anda sendiri; tanpa harus terlalu lelah dan frustasi menunggu uluran tangan orang lain (siapapun pihak lain itu).

You must create your own history. You define your own storyline.

Disini ada dua jalan yang bisa ditelusuri. Jalan yang pertama adalah you start your own business (atau side business, jika tetap ingin menjadi pegawai). Pertanyaannya : Apakah buruh dan pegawai rendahan dengan upah pas-pasan bisa membangun bisnis sendiri?

Jawabannya lugas : bisa. Sebab, kita tak pernah kekurangan kisah yang menggugah itu : tentang mantan office boy restoran yang sekarang jadi juragan warung makan dengan mobil Hummer, tentang mantan pemulung yang kini jadi jutawan barang bekas, tentang mantan montir rendahan yang kini punya pemilik jaringan bengkel. And the story goes on and on and on.

It’s all about mindset sodara-sodara : jika mindset Anda terus berpikir tentang kekurangan lantaran jadi pegawai rendahan, maka selamanya Anda akan jadi orang pas-pasan. Namun kalau mindset Anda selalu penuh dengan energi kelimpahan, maka keajaiban rezeki itu diam-diam akan memeluk Anda dengan penuh sukacita.

Jalan kedua adalah tetap bekerja dengan tekun, apapun posisi dan penghasilannya. Sebab : semua layak di-syukuri. Sebab semua mesti di-ringkus dengan keihlasan. Namun, senyampang dengan itu, elan spirit untuk terus maju harus selalu di-kibarkan.

Begitulah, ada kisah tentang porter (kuli) hotel yang sambil bekerja terus berjibaku melanjutkan kuliah. Ada klerk yang tiap malam belajar kursus perpajakan. Ada salesman jalanan yang tekun membaca buku dan mengumpulkan ilmu.

Dan keajaiban rezeki itu akhirnya jatuh menebarkan parade kemakmuran : porter itu kini menjadi GM hotel terkemuka dunia, klerk itu kini menjadi manajer pajak yang handal, dan salesman rendahan itu itu kini jadi Direktur Penjualan.

Pakemnya sama : mindset berkelimpahan dan spirit untuk terus maju yang harus terus dirajut. Yang harus selalu dipatrikan dalam sekujur tubuhmu. Dan impian tentang hidup yang sejahtera itu perlu terus diyakini.

Sebab, remember this : what you believe is what you get.

Saya ndak tahu berapa gaji/pendapatan Anda saat ini. Kalau sudah merasa memadai, ya syukur. Kalau belum, ya syukur juga.

Namun saya yakin, Anda semua kelak pasti akan menemui keajaiban rezeki yang berkelimpahan. Kenapa? Sebab Anda masih mau meluangkan waktu membaca blog ini (meski sudah dilarang-larang). Itu artinya Anda masih punya semangat untuk terus mau belajar, untuk terus maju :)

Selamat bekerja teman-teman. Selamat berjibaku merawat masa depan.

Tulisan asli ada di : http://strategimanajemen.net/2012/11/19/jika-anda-ingin-terus-jadi-pegawai-rendahan-please-jangan-baca-tulisan-ini/